Petualangan menjadi wanita... di dunia paralel :D

Petualangan menjadi wanita... di dunia paralel :D comedy stories
  2
  •  
  0
  •   0 comments
Share

reik
reik Community member
Autoplay OFF   •   a year ago
Memakaikan salep di punggung seorang cewek imut yang tidak pakai baju itu... rasanya gimana gitu. Walau dia kakakku dan aku juga jadi perempuan sekarang.

Petualangan menjadi wanita... di dunia paralel :D

Petualangan menjadi wanita... di dunia paralel :D

Sebuah fiksi mini oleh Rei K.

"Jadi gimana menurutmu?" tanyaku sambil cengar-cengir.

"Gimana apanya?" tanya Satya balik, sambil memeriksa laci lemarinya.

"Tadinya kupikir kita dalam masalah besar. Apa kata Ayah, coba, begitu melihat anaknya pulang sudah ganti kelamin.

Tapi sepertinya kita sudah pindah ke dimensi lain, ya? Dunia di mana semua orang sudah berubah gender... heheheh..."

Satya mendelik, memelototiku.

Alih-alih menakutkan, ekspresinya malah membuatku ingin mencubit pipinya.

Jadi aku mencubitnya.

Dia menepak tanganku, tentu saja.

Akhirnya Satya berpaling, kembali mengabaikanku. Dia mengambil sebuah kaos dan membanting pintu lemari.

Sebenarnya dia sudah mau membuka jaket, tapi tiba-tiba berhenti saat menyadari aku memperhatikannya.

Dengan wajah memerah, dia berpaling dan beranjak ke pojok, menghadap tembok.

"Jangan ngintip," desisnya.

"Oh, ayolah! Aku juga punya, kok," tukasku sambil membuka baju yang dari tadi sudah kesempitan di bagian dada.

Satya sudah setengah berbalik badan, mungkin mau menggeplak kepalaku, tapi langsung membatalkan niatnya begitu tahu aku melepas baju.

"Jangan telanjang di kamar orang!" serunya agak panik.

Mau tidak mau aku tekekeh, tambah gemas.

Aku mengambil sehelai kaos di lemari Satya, lalu memakainya dengan cepat.

"Sudah, kok," kilahku. "Ketahuan, kan, siapa yang tukang ngintip!"

Satya menggerutu, lalu perlahan membuka bajunya.

Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang membuatku melompat dan mencengkeram lengan atasnya.

Dia memekik kaget, lalu menutupi dadanya dengan kaos di tangan.

Aku menekan pinggiran memar di punggungnya.

Dia terkesiap, lalu menepis peganganku.

"Apa ini?" tanyaku dengan nada tinggi.

Satya menggeleng. "Bukan apa-apa. Tadi terbentur waktu melawan nenek sihir itu."

Aku mendengus. "Kuambilkan salep. Kamu duduk dan tunggu di situ."

Memakaikan salep di punggung seorang cewek imut yang tidak pakai baju itu... rasanya gimana gitu.

Walau dia kakakku dan aku juga jadi perempuan sekarang.

"Jangan berpikiran jorok," kata Satya tiba-tiba.

Dia masih duduk memeluk bajunya, rambut panjangnya tergerai ke depan di sela-sela leher.

Aku tertawa.

"Kok tahu?"

Satya cuma menggeram. "Sudah belum, sih?" tanyanya kesal.

Aku memutar bola mata, lalu meratakan salep itu. 'Ayolah, Cahyadi,' batinku menyemangati, 'anggap ini sedang di rumah sakit dan dia adalah pasienmu yang paling cerewet.'

"Dah, beres," kataku sambil menutup wadah salep.

Satya menggumamkan terima kasih, lalu memakai baju. Aku berusaha untuk tidak melihat ke arah dadanya, tapi sulit juga.

"Jadi... apa langkah kita selanjutnya?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatian, lalu duduk di sampingnya.

Satya hanya menarik kaki ke atas dan menumpukan dagu di lutut.

"Sepertinya kita harus menemukan nenek sihir itu lagi," gumamnya tak yakin. "Dia yang mengirim kita ke sini, jadi kupikir dia juga yang bisa mengembalikan kita lagi."

Aku tertawa sarkas. "Bagaimana kamu bisa yakin dia ada di dunia ini? Dan lagi, mungkin sekarang dia sudah jadi kakek sihir."

Dia mengedikkan bahu, lalu melirikku. "Kamu punya ide yang lebih baik?"

Harus kuakui, aku tidak punya ide lagi. Haha. Entah berapa banyak kemungkinan kami bisa kembali.

Apa aku harus membiasakan memanggil Satya dengan Sariya, dan berpikir namaku bukan Cahyadi, melainkan Cahyani?

Dan bagaimana dengan... urusan kewanitaan lainnya?

Seperti menstruasi.

Bagaimana kalau nanti kami masih terjebak di sini sampai aku menikah dan hamil??

Huaaaaa!

Terperosok ke dunia lain dan berubah menjadi perempuan itu ternyata tidak seindah yang dibayangkan!

"Jangan khawatir," ujar Satya sambil menggenggam tanganku. "Nanti kita hadapi bersama."

Aku mengerjap... menatap tangan kami.

"Uh... apakah sekarang kita perlu pelukan dan semacamnya?" tanyaku khawatir.

Tentu saja, itu membuat Satya menyeringai.

Tidaaak! Aku buru-buru kabur sebelum dia benar-benar memelukku.

"Tapi kan sekarang kamu saudara perempuankuuuu~" Sayup suara tawa Satya terdengar di belakang.

Aku lantas menimpuknya pakai sendal bulu.

Tamat

Stories We Think You'll Love 💕

Get The App

App Store
COMMENTS (0)
SHOUTOUTS (0)