Wonderwall
Wonderwall romance stories
  0
  •  
  0
  •   0 comments
Share

anon
anonAnonymously Published Stories
Autoplay OFF  •  7 months ago
Aku menatap tajam pria di hadapanku. Dia baru saja menumpahkan kopinya di kemejaku, menyebabkan kemeja putihku berubah warna
By ohsilentreverie https://ohsilentreverie.t...

Wonderwall

by ohsilentreverie

Aku menatap tajam pria di hadapanku. Dia baru saja

menumpahkan kopinya di kemejaku, menyebabkan kemeja putihku berubah warna

menjadi cokelat. Dia menatapku dengan tatapan bersalahnya.“Maaf, saya benar-benar ga lihat.”, katanya.Aku menghela nafasku kencang. Ingin marah, namun tidak akan

membuat perubahan apa-apa. Maka aku mengangguk dan berkata padanya untuk tidak

merasa bersalah. Dia bersikeras membelikanku pakaian baru. Lokasi kami memang

berada di sebuah coffee shop dalam sebuah mall besar. Karena dia memaksa, maka

aku pun mengiyakan. Lagipula, lumayan, aku bisa mendapat baju baru gratis. Hey!

Aku hanya mahasiswi rantau yang perlu menghemat. Jangan salahkan kelicikanku

ini.Kami berkeliling menuju department store besar, dan tidak

perlu waktu lama untuk menemukan baju yang cocok dengan badanku. Aku mengucapkan

terimakasih, dan kami pun berpisah.Pertemuan itu tidak menjadi pertemuan terakhir kami. Ternyata,

dia dosen baru di kampusku dan mengajar di kelasku. Sejak saat itu, kami sering

keluar bersama. Dia dosen yang menyenangkan. Mampu membuat kami, -para

mahasiswa-, mengerti dan mendengarkan penjelasannya tanpa rasa bosan. Berdiskusi

dengannya menyenangkan, kami membahas isu-isu politik yang sedang mendunia. Dia

sangat dewasa, membuatku kagum dia berhasil menjadi dosen di umurnya yang baru

28 tahun.Setahun kedekatan kami, membuatku tau bahwa dia berasal dari

sebuah panti yatim piatu di kota sebelah. Ayahnya meninggalkan dia dan ibunya

sejak masih kecil, dan ibunya meninggalkannya di stasiun kereta api saat

umurnya 7 tahun. Ia pernah mengamen di jalanan untuk mencari uang, pernah

mencuri makanan juga mencopet, hingga sepasang suami istri kaya raya mengadopsinya

sebagai anak. Bukannya mendapat kasih sayang yang ia butuhkan, ia

ditelantarkan. Secara finansial, dia memang tidak kekurangan. Hanya saja kedua

orangtua angkatnya ternyata sangat sibuk, hingga sangat jarang bertemu dengan

dia. Membuat dia tumbuh tanpa mengenal apa itu kasih sayang.Dia  diam saat sedang

marah. Dia diam saat sedang senang. Dia tidak tau mengekspresikan perasaannya,

termasuk cinta. Bahkan dia tidak tau apa itu cinta. Dia buruk dalam menunjukan

perhatian-perhatian, hingga menunjukannya dengan cara yang cenderung aneh.  Dia sangat menutup diri, -awalnya-, dan

sekalinya membuka diri, ia terlalu tergantung padaku. Hal ini membuatku ingin

menangis, mengingat pria segagah dia (aku yakin dewa Yunani pun iri melihat

ketampanannya), sekuat dia, memiliki hati yang rapuh.Aku akan mengajarinya apa itu cinta. Aku mencintainya.** Saya terdiam melihat kopi yang baru saja saya beli tumpah. Dia

sungguh kecil, hingga saya tidak melihatnya saat saya membalikan badan. Dia memandang

saya dengan tatapan tajam yang entah terlihat lucu di mata saya, dan saya

segera mengucapkan maaf. Dia hanya menghela nafas dan meminta saya untuk tidak

merasa bersalah. Namun, sebagai laki-laki, saya harus bertanggung jawab. Saya memaksanya

untuk membelikannya baju baru, yang dia iyakan dengan senang hati.Menurut saya takdir sedang bermain dengan saya. Ternyata dia

salah satu murid di kampus tempat saya baru bekerja. Saya mengamatinya. Dia mahasiswi

yang cukup aktif di kelas, hanya saja saya melihat dia sering mengantuk. Ekspresinya

saat mengantuk, juga kepalanya yang seringkali seperti ingin jatuh saat

tertidur, membuat saya mati-matian menahan tawa saya di kelas.Ternyata, dia sangat cerdas. Kami sering berbincang mengenai

isu politik, dan tidak saya sangka cara berpikirnya sungguh kritis dan luas. Ia

tidak ragu memberi argument, juga statement yang ia yakini. Bagaimana bisa

seorang gadis terlihat seperti anak-anak juga dewasa secara bersamaan? Saya tidak

tau.Baru kali ini saya merasa nyaman berdiskusi dengan

seseorang. Saya jarang memiliki teman, saya hanya memiliki koneksi-koneksi yang

terhubung dengan bisnis kecil-kecilan saya. Dan ternyata, rasanya tidak buruk untuk

berdiskusi. Saya mengagumi bagaimana ia bisa terlihat kesal di suatu waktu, dan

di waktu berikutnya ia segera bahagia hanya karena membeli es krim. Juga caranya

mengekspresikan segala sesuatu yang bermain di kepala cantiknya. Dia tidak malu

saat menginginkan sesuatu, juga tidak ragu-ragu marah jika saya berbuat salah. Dan

tanpa sadar, saya nyaman bersamanya.Dia mengajari saya untuk terbuka. Saya tidak tau kemarahan

macam apa yang saya rasakan saat melihatnya dekat dengan pria lain, namun dia

berhasil membuat saya mengeluarkan kemarahan itu, meski hanya dengan

menghancurkan kaca dan berteriak. Setelahnya, dia memelu saya, mengelus pelan

pipi saya, lalu mengobati luka di tangan saya akibat pecahan kaca, lalu saya tenang seketika.

Bagaimana dalam tubuh semungil itu bisa meredakan amarah gila saya?Saya tidak tau ini cinta atau bukan. Namun saya akan selalu

di sisinya. Saya akan menjaganya.

Stories We Think You'll Love
COMMENTS (0)
SHOUTOUTS (0)