Ashari
Ashari true-story stories
  0
  •  
  0
  •   0 comments
Share

anon
anonAnonymously Published Stories
Autoplay OFF  •  6 months ago
“Kisah kita berbeda. Kelak kau akan mengerti bagaimana luar biasanya kisah kita. Bahkan semesta pun mungkin mengakuinya. Bahkan waktu mungkin tak mampu menjadikannya usang, sebab kisah kita luar biasa, karenanya akan selalu terasa baru. Akan selalu teringat tiap-tiap detiknya yang berlalu.
By fromheaddowntoheart http://fromheaddowntohear...

Ashari

by fromheaddowntoheart

“Kisah kita berbeda. Kelak kau akan mengerti bagaimana luar biasanya kisah kita. Bahkan semesta pun mungkin mengakuinya.

Bahkan waktu mungkin tak mampu menjadikannya usang, sebab kisah kita luar biasa, karenanya akan selalu terasa baru. Akan selalu teringat tiap-tiap detiknya yang berlalu.

Kelak kamu akan pahami itu, dan mungkin kita tidak bersama lagi..pada saat itu”.Ya. Ashari mengajariku banyak hal.Mengenalkan ku pada kemurnian dan kejernihan dekapan.

Mengajari ku bagaimana memaafkan diriku sendiri atas kesalahan-kesalahan dalam pilihan-pilihan yang mengakibatkan aku kembali lagi meresap kegagalan.Mengajari ku kesabaran dalam mencintai.

Bahwa ketika kau terus mencintai seseorang yang telah menyakitimu, bukan berarti kau bodoh.

Kau hanya butuh benar-benar merasa memperjuangkan agar kelak kau bisa melangkah dengan alunan kedamaian.

Ashari masih rajin membuktikan bagaimana Ia mencintaiku ketika aku sudah memilih mendekap tangan yang lain.

Masih rajin mengirimiku pesan agar jangan lupa makan, jangan begadang, tak lupa dengan puisi-puisi indah lainnya.

Kadang ku balas, kadang ku diamkan saja karena hal-hal kecil dan tulus seperti itu justru membuatku sesak. Aku jahat seperti ini dan ia masih baik padaku setulus itu.

Bagaimana itu tidak menyiksa batinku?.Tapi sekalipun, ia tak pernah marah.

Saat itu aku tak berpikir, “Bagaimana bisa ada manusia seperti itu?”Tapi ketika 10 tahun telah berlalu, aku pun menjejak di pelataran luka nya.

“Jadi seperti ini yang kau rasa, Ai?”, sering aku menggumam seperti itu.Kala aku mengecap pilu akan selalu ada Ashari muncul dalam ingatanku.Bukan Hantu. Tapi kujadikan ia Guru.

Mengingat bagaimana ia melewati hari-hari perih tanpaku, seperti itulah caraku melewati hari-hari perih tanpamu.Pernah sekali waktu aku menyesali hari itu.

Di mana aku melepaskan genggaman seorang Ashari. Namun kini ketika ku lihat wajah riang bayinya, ku tahu, memang bahagia yang seperti itu lah yang pantas untuknya.

“Aku belum ikhlas ada yang lebih baik dari ku yang mampu mencintaimu..”, 13 tahun berlalu, masih saja kau gema kan kalimatmu itu. Lucu. “Kau sudah bahagia sedang aku gagal tuk ke empat kalinya.

Jika kau masih tulus mencintaiku, doakan dan relakanlah kebahagiaan ku walau itu bukan dengan mu…ya?..”, Pinta ku dua minggu lalu ketika kau mengunjungiku via telepon.“hmm…baiklah..

hari ini aku ucap ikhlas..tapi berjanji satu hal pada ku, bahwa kau akan menemuiku dulu sebelum hari pernikahanmu..”, jawabmu.“Insyaallah…”, jawab ku.

Keras kepalamu itu, entah harus bagaimana lagi aku menyikapinya. Lalu setelah itu, perasaan ringan dan lega menyertaiku. Padahal saat itu aku sedang kehilangan.

Namun entah kenapa, seakan semua badai reda seketika. Dan saat itu aku mulai bisa percaya, bahwa kamu yang setelah ini ku temui..entah dimana..entah kapan..kamu, adalah rumah bagiku.

Stories We Think You'll Love
COMMENTS (0)
SHOUTOUTS (0)